School Crimes ( ElementarySchool Level )

School Crimes ( ElemetarySchool Level )

PARENTAL ADVISORY:

Semua kejadian dan tindakan yang bakal tersaji berikut ini tidak dianjurkan sebagai gaya hidup anak-anak anda, ini cuman solusi temporary yang hanya dilakukan saat-saat kepepet ato kurang kerjaan. Perhatikan anak-anak anda jika mereka memiliki kecenderungan bersikap mengikuti trik ato strategi berikut, ambil langkah pencegahan sedini mungkin agar anak anda mempunyai kehidupan bersekolah seperti yang anda bayangkan selama ini dirumah.

Pistol Air Super

Pistol air mainan yang samasekali tidak berbahaya, semua pasti setuju, semua pasti suka. Tapi seperti halnya di kepolisian, orang tua seharusnya memberi ujian ato tes psikologi bagi anak-anaknya untuk dapetin ijin membawa senjata api, eh senjata air ( pistol air ). Berhari-hari udah gue minta pistol air ma nyokap, ni maenan yang lagi tren brur dikelas. Pokoknya pistol air dengan model terkini pasti nunjukin status derajat kita dimata yang laen, makanya semua pada berlomba memiliki maenan yang satu ini. Tanpa peduli ma ekonomi bokap nyokap yang pas-pas an, semua tetep aja keukeuh musti diturutin, termasuk gue. Rengekan gue ga’ meluluhkan hati bokap nyokap gue buat serta merta belikan pistol air idaman. Dengan status sebagai PNS alias guru, gaji seadanya ( yang masih dipotong sana sini ), bokap sangat selektif dalam prioritas pengeluaran.

Ga’ kalah akal, gue kumpulin sendiri uang saku, pokoknya gue kudu punya. Yup…, perjuangan berhasil, pistol air ( termurah terkecil ) akhirnya ditangan. Didalam kelas semua pada unjuk kebolehan dengan pistol air kebanggaan masing-masing, namanya juga anak SD, yang maenannya paling wah pasti dapat temen paling banyak. Pistol mini gue ga’ bertaji blas, pengaruh kepemimpinan gue merosot drastis. Lebih sebel lagi, cewe’-cewe’ pada ngremehin. Dirumah gue putar otak, dengan senjata ditangan, dengan otak gue juga dengan rasa superioritas gue atas yang laen ( gara-gara ngerasa jadi anak tokoh yang disegani ), senjata mini berhasil gue update jadi senjata “bertaji”. Tunggu aja besok, semua bakal tunduk ditangan gue.

Seperti biasa, waktu ngaso adalah waktu yang paling pas ngebanggain maenan, semua masih aja ngremehin gue. Setelah isi amunisi, kita langsung larut permainan perang-perangan. Tembak sini tembak sana, ga’ peduli cowo’ ga peduli cewe’ ( yang emang ga’ bersenjata ). Crat…! Crat….! Bak mafioso akhirnya pistol mini gue beraksi. Huwa…! Satu cowo’ berhasil gue bikin nangis, belum puas, tembakan membabi buta laennya gue lancarkan. Crat…! Crat….! Crat…! Cewe’- cewe’ pada nangis, pun berlaku bagi cowo’-cowo’ yang bertahap mundur. Berkacak pinggang dengan pistol mini, gue sukses merajai permainan kali ini. Tangisan temen-temen terutama yang cewe’ akhirnya menarik perhatian aparat yang berwenang, guru-guru gue. Dengan mata merah yang masih aja berair karena perih, semua nunjuk ke arah gue. From hero to zero, gue digelandang ke kantor kepala sekolah, berikut persenjataan gue. Tenang…! Kepala sekolah yang terhitung famili ga’ bakal tega hukum gue, paling cuman dinasehati ( belakangan gue malah dihukum berat bukan ama kepsek tapi ama nyokap ). Interogasi berlanjut ke pemeriksaan bukti-bukti, semua guru membelalakkan mata penuh geram demi dapati pistol air gue beramunisi spesial, air cabe!

No Comments Yet

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment